IBMNews.com, Tarakan – Harga komoditas kepiting di Kota Tarakan mengalami penurunan drastis menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Kondisi ini menimbulkan keresahan di kalangan nelayan dan petani kepiting, lantaran anjloknya harga jual terjadi secara tiba-tiba dan signifikan, bahkan mencapai puluhan persen hanya dalam hitungan hari.
Berdasarkan data salah satu pos pembelian kepiting di kawasan Juwata Laut per 14 Desember 2025, hampir seluruh jenis kepiting mengalami penurunan harga. Kepiting jenis CBH (kepiting betina bertelur) tercatat turun menjadi Rp110 ribu per kilogram, CBK (Kepiting Betina Kosong) Rp50 ribu, H7 (Jantan Jumbo) Rp120 ribu, H5 (Kepting ukuran besar) Rp70 ribu, H4 (ukuran menengah) Rp50 ribu, H3 (Ukuran Kecil) Rp40 ribu, dan H2 (Ukuran Sangat Kecil) Rp30 ribu per kilogram.
Padahal, hanya tiga hari sebelumnya, tepatnya pada 11 Desember 2025, harga kepiting di Pos Lasinrang masih berada pada level relatif tinggi. Saat itu, kepiting CBH masih dibeli dengan harga sekitar Rp250 ribu per kilogram, H7 Rp160 ribu, H5 Rp120 ribu, H4 Rp90 ribu, H3 Rp60 ribu, H2 Rp40 ribu, dan CBK Rp70 ribu per kilogram.
Salah seorang petani kepiting di Tarakan yang enggan disebutkan namanya mengaku terpukul dengan kondisi tersebut. Ia menilai, penurunan harga ini tidak wajar, mengingat menjelang hari besar keagamaan seperti Natal, Tahun Baru, dan Imlek, permintaan pasar biasanya meningkat tajam.
“Kalau dulu, setiap mendekati Natal, Tahun Baru, bahkan Imlek, harga kepiting pasti naik karena permintaan tinggi. Tapi dua tahun terakhir ini justru terbalik. Harga malah anjlok, dan itu selalu terjadi menjelang momen-momen besar,” ungkapnya.
Menurutnya, penurunan harga kali ini bahkan mencapai sekitar 60 persen dan terjadi dalam waktu yang sangat singkat, yakni hanya dalam dua hari terakhir. Kondisi tersebut memunculkan dugaan kuat adanya permainan harga oleh pihak-pihak tertentu yang menguasai rantai distribusi dan pemasaran kepiting di Tarakan.
“Kami menduga ada mafia atau kelompok tertentu yang sengaja menekan harga. Polanya berulang, bukan hanya tahun ini, tapi sudah dua tahun berturut-turut,” tambahnya.
Para nelayan dan petani kepiting pun berharap pemerintah daerah serta instansi terkait dapat turun tangan melakukan pengawasan lebih ketat terhadap tata niaga kepiting. Mereka meminta adanya langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi pelaku usaha kelautan lokal, khususnya menjelang momentum hari besar keagamaan yang seharusnya menjadi peluang peningkatan pendapatan, bukan justru masa kerugian.***(IBM02)







