TARAKAN – Umat Islam di Indonesia kemungkinan besar akan mengalami perbedaan dalam mengawali Puasa Ramadhan 2022 / 1443 Hijriah.
Dalam hal ini, sesuai dengan instruksi dari Kementerian Agama RI, penentuan Rukyatul Hilal untuk awal Ramadan 1443 nanti akan dilakukan pada 1 April mendatang.
Muhammadiyah dengan metode kriteria Wujudul Hilal, sudah memutuskan 1 Ramadhan 1443 adalahh 2 April 2022. Jika ada yang melihat bulan pada 1 April nanti, berarti awal Ramadan ditentukan pada keesokan harinya bersamaan dengan Muhammadiyah yang sudah menentukan tanggal 2 April dimulai puasa.
“Dalam pelaksanaan rukhyatul hilal ini nanti, cuaca paling menentukan. Kalau memang hilal itu ada, mudah- mudahan kelihatan. Nantinya, Selain tim dari Kementerian Agama Tarakan, juga akan dihadiri ormas Islam dan perwakilan dari Pemkot Tarakan.” terang Kepala Kemenag Tarakan, HM Shaberah, (18/03/2022).
Lebih lanjut, ia menambahkan, selain kondisi cuaca, untuk geografis di Tarakan juga mempengaruhi tidak terlihatnya hilal. Di Tarakan selama beberapa kali dilakukan rukyatul hilal belum pernah ada yang melihat bulan, karena keterbatasan alat.
“Lokasi paling baik untuk pelaksanaan rukyatul hilal hanya di Taman Berlabuh. Sebelumnya pernah dicoba di Mako Satradar 225, tapi bulan masih tidak bisa terlihat. Untuk alat sedikit demi sedikit sudah dilengkapi pusat. Kami baru mendapatkan alat theodolit dari Kanwil, biar nanti ketika dilihat pas ke titik hilalnya. Kalau teropong sudah ada kita punya,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan, M. Sulam Khilmi menuturkan, pengamatan hilal dari BMKG, sebagai tim teknis mendukung pelaksanaan hilal di Kemenag. Alat Theodolit yang baru dimiliki Kemenag Tarakan nanti, kata dia, akan meneropong tinggi hilal.
“Kami akan menjadi tim teknis di sana untuk mendukung rukyatul hilal yang akan dilaksanakan Kemenag Tarakan. Estimasi ketinggian hilal, sesuai perhitungan BMKG, pada 1 April nanti sekitar 1,5 derajat. Ada potensi cuaca hujan dan berawal di hari rukyatul hilal. Karena, dengan memasuki masa pancaroba, berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di Kaltara,” tukasnya. (*)